
(Oleh: Raisya Dhiya Dinahya)
Suasana kedatangan bulan Ramadan dapat kita sadari bahkan tanpa perlu melihat kalender sekalipun, tanda-tanda kemunculannya yang sangat khas dan hanya hadir sekali dalam setahun meninggalkan kesan yang tak terlupakan.
Misalnya, ketika munculnya iklan salah satu merek sirup dengan konsep yang selalu megah dan dramatis, seolah menjadi “pengumuman nasional” bahwa momen kolak dan es buah siap memenuhi meja makan.
Fenomena “war takjil” yang mulai terasa di mana-mana, takjil atau makanan pembuka tidak hanya diburu oleh umat Muslim, tetapi juga mereka yang senantiasa ikut meramaikan suasana bulan Ramadan dengan ikut berburu gorengan, risol mayo, hingga salad buah.
Suasana dini hari pun berubah yang semula sunyi menjadi ramai karena suara kentongan dan teriakan anak-anak yang berkeliling membangunkan sahur, hingga toa mushola yang bersahut-sahutan, membuat malam terasa jauh lebih hidup.
Ditambah lagi rak minimarket yang tiba-tiba dipenuhi sirup warna-warni, dekorasi berwarna hijau, serta berbagai diskon yang bermunculan di mana-mana.
Rangkaian keunikan itu menjadi ciri khas yang membuat kita sadar bahwa bulan yang istimewa dan penuh berkah telah datang. Kedatangannya, bukan hanya membawa tradisi kebersamaan tetapi juga membuat kesempatan untuk memperbaiki diri, menata kembali kebiasaan, dan mengumpulkan lebih banyak kebaikan.
Bulan Ramadan dapat menghidupkan kembali solidaritas dan kebersamaan. Banyak lingkungan, komunitas, hingga kelompok kecil di sekitar kita memanfaatkan bulan Ramadan untuk melakukan aksi sosial.
Mulai dari berbagi takjil, memberikan sembako, hingga mengadakan buka puasa bersama yang memperkuat rasa persaudaraan. Suasana kebersamaan inilah yang membuat bulan Ramadan selalu dirindukan.
Bulan Ramadan mengajak kita melakukan hal-hal sederhana namun penuh makna, dan juga membawa keberkahan, seperti:
- Menahan diri dari komentar negatif dan mengurangi ghibah.
- Berbagi makanan atau takjil meskipun hanya sedikit.
- Tidak lupa melaksanakan tarawih dan tadarus setiap hari walau sedikit.
- Mengelola emosi dan meningkatkan kesabaran.
- Mengurangi konsumsi konten yang tidak bermanfaat dan memperbanyak aktivitas yang menenangkan hati.
Tantangan yang dilalui dalam menahan diri membuat bulan Ramadan menjadi istimewa. Disaat kita menjalankan puasa, kegiatan yang dilakukan setiap harinya harus terus berjalan seperti biasanya, disinilah letak keistimewaannya, karena kita harus bisa menjaga energi saat bekerja atau belajar, menjaga ibadah agar tepat waktu, hingga konsisten melakukan kebiasaan baik.
Menjalankan kegiatan tersebut secara konsisten selagi berpuasa bukanlah hal yang mudah, tetapi dari kebiasaan inilah kita bisa tumbuh perlahan dengan membiasakan kebaikan sedikit demi sedikit, sampai akhirnya menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih sadar.
Pada akhirnya, bulan Ramadan bukan hanya tentang suasana dan berbagai tradisi khasnya, tetapi juga tentang perjalanan menjadi pribadi yang lebih baik dengan perlahan, konsisten, dan penuh kesadaran.
Semoga tahun ini kita dapat menyambut bulan Ramadan dengan hati yang lebih tenang, niat yang lebih tulus, dan semangat untuk terus memperbaiki diri.[]
Referensi:
https://bpakm.uii.ac.id/berbagi-bersedekah-dan-silaturahmi-di-bulan-yang-suci/