HARI GIZI NASIONAL 2026: Piring Sehat Untuk Indonesia Kuat

(Oleh: Raisya Dhiya Dinahya)

Setiap tanggal 25 Januari, Hari Gizi Nasional hadir sebagai peringatan sekaligus pengingat bahwa kesehatan dibangun dari kebiasaan yang kita lakukan setiap hari. Salah satunya adalah kebiasaan makan.

Kementerian Kesehatan menyampaikan bahwa Hari Gizi Nasional menjadi momentum penting untuk menggalang kepedulian dan meningkatkan komitmen berbagai pihak dalam mewujudkan Indonesia Sehat melalui penerapan gizi seimbang serta dukungan terhadap produksi pangan yang berkelanjutan. Peringatan ini juga menjadi sarana strategis untuk menyebarluaskan edukasi gizi kepada masyarakat secara luas.

“Namun, pertanyaannya, apakah kebutuhan gizi masyarakat Indonesia saat ini sudah
benar-benar terpenuhi?”

Kasus stunting yang masih banyak ditemukan di Indonesia menunjukkan bahwa
pemenuhan gizi di Indonesia masih menjadi tantangan. Pada tahun 2024, Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) melalui Badan Kebijakan Pembangunan
Kesehatan (BKPK) resmi mengumumkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024
bahwa Survei nasional yang menjadi rujukan utama dalam upaya percepatan penurunan stunting ini mencatat adanya penurunan prevalensi stunting nasional, dari 21,5% pada 2023 menjadi 19,8% pada 2024.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, dalam sambutannya menegaskan
komitmen kuat pemerintah untuk menurunkan angka stunting nasional menjadi 14,2% pada
tahun 2029, sesuai dengan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)
yang disusun bersama Sekretariat Wakil Presiden dan Bappenas.

Data ini menunjukkan adanya kemajuan, sekaligus mengingatkan bahwa upaya pemenuhan gizi masih terus diperkuat pada tahun 2026, Kementerian Kesehatan memberikan peringatan bahwa Hari Gizi Nasional ke-66 mengusung tema “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal” dengan slogan “Sehat Dimulai dari Piringku”.

Tema ini terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari karena mengajak masyarakat untuk kembali melihat apa yang ada di sekitar. Sayur, buah, ikan, telur, kacang-kacangan, hingga umbi-umbian merupakan contoh pangan lokal yang mudah dijumpai dan memiliki nilai gizi tinggi.

Pesan ini mengajak kita untuk lebih sadar bahwa makanan sehat tidak harus mahal, tetapi bisa ditemukan pada pangan lokal di pasar tradisional. Melalui slogan “Sehat Dimulai dari Piringku”, masyarakat diharapkan semakin menyadari bahwa kesehatan tidak hanya bergantung pada rumah sakit atau tenaga medis.

Kesehatan justru dimulai dari pilihan sederhana yang kita buat setiap kali mengisi piring. Apa
yang kita makan hari ini akan memengaruhi energi, fokus, dan daya tahan tubuh kita esok hari.
Perubahan besar dapat dimulai dari keputusan kecil yang diambil di meja makan, seperti memilih menu yang lebih seimbang dan bergizi untuk makan hari ini.

Dalam upaya mendukung pemenuhan gizi masyarakat, salah satu program yang menjadi
perhatian saat ini adalah hadirnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini menjadi
salah satu upaya untuk memastikan bahwa anak-anak dan kelompok rentan mendapatkan akses
terhadap makanan bergizi secara lebih merata.

Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berfokus pada pemberian makanan, tetapi juga pada pembentuk kebiasaan makan sehat sejak dini. Ketika anak terbiasa mengonsumsi makanan yang bergizi dan seimbang, pemahaman tentang pentingnya gizi akan tumbuh secara alami.

Jika dikaitkan dengan tema Hari Gizi Nasional 2026, Makan Bergizi Gratis (MBG)
memiliki potensi besar untuk selaras dengan pemanfaatan pangan lokal. Dengan menggunakan
bahan makanan yang berasal dari daerah sekitar akan membuat makanan lebih segar dan sesuai
dengan budaya setempat, tetapi juga mendukung keberlanjutan pangan dan perekonomian
masyarakat lokal. Dengan begitu, satu piring makanan tidak hanya menyehatkan, tetapi juga
memberi manfaat lebih luas bagi lingkungan sekitar.

Di sinilah Hari Gizi Nasional dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) saling melengkapi. Hari Gizi Nasional menjadi ruang refleksi dan penguatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi seimbang, sementara Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi bentuk praktik di lapangan. Keduanya berjalan dalam arah yang sama, yaitu membangun kualitas gizi masyarakat secara bertahap dan berkelanjutan.

Kampanye yang dilakukan melalui berbagai media, termasuk dengan penggunaan
hashtag seperti:
#HGN66,
#HGN2026,
#HariGiziNasional2026, dan
#PenuhiGiziSeimbangdariPanganLokal,

penyebaran melalui hashtag ini diharapkan dapat membuat pesan gizi terasa lebih dekat dengan keseharian masyarakat. Melalui cara ini, edukasi gizi tidak lagi terasa kaku, tetapi dapat hadir dalam pembahasan sehari-hari, baik di sekolah, keluarga, maupun ruang digital.

Pada akhirnya, peringatan Hari Gizi Nasional 25 Januari 2026 mengajak kita untuk
kembali melihat piring kita sendiri. Apakah sudah cukup seimbang? Apakah sudah
memanfaatkan pangan lokal? Dari pertanyaan sederhana itu, kesadaran tentang pentingnya gizi
bisa tumbuh. Sebab, seperti yang diingatkan dalam slogan tahun ini, sehat memang dimulai dari
piring kita.[]

Sumber:

https://ayosehat.kemkes.go.id/agenda-kegiatan/hari-gizi-nasional-2026 (Tema Hari Gizi
Nasional 2026)

https://dinkes.acehprov.go.id/detailpost/kemenkes-rilis-survei-status-gizi-indonesia-2024-prevale
nsi-stunting-nasional-turun-menjadi-19-8 (Data Penurunan Stunting di Indonesia)

Leave a Reply