Gerakan Satu Juta Pohon: “Bukan Hanya Perayaan, Tapi Menghasilkan Perubahan”

 

 

(Oleh: Raisya Dhiya Dinahya)

Setiap tanggal 10 Januari, dunia memperingati Hari Gerakan Satu Juta Pohon. Tidak ada pesta besar, tidak ada kembang api, tetapi maknanya justru sangat dalam. Di tengah hidup yang serba cepat, teknologi yang terus berkembang, dan aktivitas manusia yang semakin padat, kita sering lupa bahwa hidup kita masih sangat bergantung pada sesuatu yang tumbuh perlahan, diam, dan sederhana, yaitu pohon.

Ia tidak bersuara dan tidak meminta pujian, tetapi jasanya kita rasakan setiap hari. Dari udara yang kita hirup, air yang kita minum, hingga tanah tempat kita berpijak. Namun, justru karena kehadirannya terasa “biasa”, kita sering tidak menyadari betapa penting perannya. Dari sini, kita mulai memahami bahwa pohon bukan sekadar elemen pelengkap, melainkan bagian utama dari kehidupan itu sendiri.

Bagi sebagian orang, pohon mungkin hanya dianggap sebagai peneduh atau latar foto yang estetik. Padahal, perannya jauh lebih besar dari itu. Pohon menghasilkan oksigen, menyimpan air hujan, menjaga kesuburan tanah, dan menjadi rumah bagi jutaan makhluk hidup.

Ironisnya, peran sebesar ini sering tidak sebanding dengan cara kita memperlakukannya. Hutan tempat hidup banyak satwa ditebang dalam hitungan waktu dan berganti menjadi kawasan industri kelapa sawit. Lahan hijau berubah menjadi bangunan untuk kawasan industri lainnya dan perumahan, sementara ruang bernapas bagi alam semakin menyempit. Padahal, untuk tumbuh besar dan kuat, satu pohon membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Dampak positif atau manfaat yang diberikan oleh satu pohon saja sudah sangat besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan lingkungan di bumi ini. Lalu, bagaimana jika ada ratusan, ribuan, bahkan jutaan pohon yang ditanam dan dirawat?

Satu Juta Pohon, Satu Juta Harapan

Angka “satu juta” bukan sekadar target. Di baliknya, ada jutaan harapan untuk udara yang lebih bersih, kota yang lebih sejuk, tanah yang lebih kuat, dan masa depan yang lebih aman.

Bayangkan jika setiap orang menanam satu pohon dan benar-benar merawatnya. Dari halaman rumah, sekolah, kampus, kantor, hingga desa-desa kecil. Gerakan ini bukan hanya tentang seremoni hari perayaan, tetapi tentang aksi nyata. Tentang kesadaran bahwa bumi tidak hanya untuk kita hari ini, melainkan juga untuk mereka yang akan hidup setelah kita.

Namun, harapan ini tidak lahir tanpa alasan. Alam sendiri sebenarnya sudah lama memberi kita tanda-tanda bahwa ia membutuhkan perhatian lebih.

Akhir-akhir ini, banyak berita yang menyampaikan informasi tentang bencana alam, seperti banjir, longsor, kekeringan, dan cuaca ekstrem di berbagai wilayah Indonesia. Saudara-saudara kita di wilayah Sumatera dan Aceh turut merasakan dampaknya melalui bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi akibat berkurangnya lahan hijau. Tercatat bahwa pada tanggal 10 Januari 2026 terdapat 1.189 korban jiwa akibat bencana tersebut.

Penyebabnya memang beragam, tetapi jika ditarik satu benang merah, akar permasalahan dari peristiwa ini adalah terganggunya keseimbangan alam akibat ulah manusia itu sendiri.

Di sinilah peran pohon kembali terasa nyata. Akar memperkuat struktur tanah, batang memperlambat aliran air, dan daun menjaga siklus hujan. Semua itu adalah sistem alami yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh teknologi di zaman sekarang.

Tulisan ini membahas tentang bencana dan kerusakan bumi akibat berkurangnya lahan hijau dan pohon. Lebih dari itu, tulisan ini mengajak kita untuk menyadari bahwa keberadaan pohon saat ini menjadi penentu bagi keberlangsungan kehidupan bumi di masa depan. Nasib bumi berada di tangan manusia sendiri, apakah kita akan mulai peduli setelah semua kerusakan terjadi, atau justru mulai mencegahnya dari sekarang?

Pencegahan itu bisa dimulai dari hal yang paling sederhana, yaitu menanam. Menanam pohon bukan hanya tentang lingkungan, tetapi juga tentang membentuk karakter. Tentang belajar sabar, konsisten, dan bertanggung jawab. Kita menanam hari ini bukan untuk hasil besok, melainkan untuk manfaat bertahun-tahun ke depan.

Menanam pohon mengajarkan bahwa menjaga bumi adalah proses yang panjang. Satu pot kecil bisa menjadi awal terbentuknya kesadaran bahwa ruang hijau sangat dibutuhkan sebagai tempat bernapas di tengah padatnya bangunan kota. Dari kebiasaan kecil inilah, perubahan besar perlahan terbentuk. Dan jika kebiasaan ini terus dilakukan, ia tidak lagi menjadi aktivitas sesekali, melainkan bagian dari gaya hidup.

Dari Perayaan Menjadi Gaya Hidup

Hari Gerakan Satu Juta Pohon seharusnya tidak sebatas menjadi agenda tahunan. Gerakan ini bisa menjadi titik awal gaya hidup yang lebih ramah terhadap bumi, seperti:

  • menanam dan merawat tanaman,
  • mengurangi penggunaan kertas dan plastik,
  • tidak merusak ruang hijau sembarangan,
  • serta mendukung komunitas dan kebijakan yang peduli lingkungan.

Aksi ini bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang menjadi lebih sadar. Karena sekecil apa pun kepedulian akan jauh lebih berarti jika dilakukan terus-menerus daripada tidak melakukannya sama sekali. Pada akhirnya, kitalah yang akan menentukan dunia seperti apa yang ingin kita tinggali.

Dunia yang Kita Titipkan

Suatu hari nanti, kita mungkin sudah tidak ada. Namun, pohon yang kita tanam bisa tetap berdiri, memberi keteduhan, udara bersih, dan kehidupan yang layak bagi generasi setelah kita.

Hari Gerakan Satu Juta Pohon adalah tentang warisan yang tidak tertulis di buku, tetapi tumbuh nyata di tanah. Tentang keputusan kecil hari ini yang menentukan seperti apa dunia esok hari.

Karena saat kita menanam pohon, secara tidak langsung kita sedang menegaskan bahwa kita peduli terhadap bumi ini. Dan kepedulian itu bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk kehidupan generasi penerus.[]

 

Referensi:

https://www.metrotvnews.com/read/kBVCM6RL-bnpb-korban-meninggal-bencana-sumatra-1-189-orang

Leave a Reply